Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

TERNYATA ORANG ISLAM HARUS MENJADI WAHHABI Oase Iman

 

Akhir-akhir ini umat Islam dihebohkan oleh istilah WAHABI, terutama istilah ini di tudingkan kepada orang Islam yang dianggap garis keras dan sering mengungkap tentang kekafiran atau biasa disebut TAKFIRI.

Dalam khazanah sejarah Islam terutama di Indonesia nama WAHAB terungkap ada 3 (tiga) orang.  Mereka adalah :

1. Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat tahun 211 H. Abdul Wahhab bin Abdurrahman adalah anak dari Abdurrahman bin Rustum sang pendiri aliran Khawarij Rustumiyah, dan Abdul Wahab pun mewarisi kekuasaan bapaknya dan pemikirannya. Sekte ini muncul di daerah Afrika Utara. Sehingga para ulama setempat khususnya dan ulama yang lain menjuluki mereka dengan Wahabi atau Wahabiyah. Wahabi ini merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahlussunnah, mereka suka mengkafirkan kaum muslimin, memberontak kepada pemerintahan, dan sangat jauh dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. (Kata Wikipedia.co.id. muslim.or.id)

2. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Hidup abad ke 12 H atau 17 M yang berasal dari Nejd, Arab Saudi, dari kabilah Bani Tamim. adalah seorang ulama yang bermazhab hambali, beliau berdakwah untuk memurnikan ajaran Islam dari bentuk penyimpangan seperti syirik, bidah, khurofat dan tahayul. mengutuk penyembahan berhala, mengkultuskab orang populer, menjadikan kuil kuburan orang yang saleh, dan melarang menjadikan kuburan sebagai tempat peribadahan.

Menurut penulis berkebangsaan Saudi, Abdul Aziz Qasim, yang pertama kali memberikan julukan Wahabi kepada Abdul Wahhab adalah Kekhalifahan Ottoman, kemudian bangsa Inggris mengadopsi dan menggunakannya di Timur Tengah.

Al-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: “Penisbatan (Wahhabi) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Semestinya kalaupun harus ada faham baru yang dibawa oleh Al-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul Wahhab. (Kata Wikipedia.co.id. muslim.or.id)

 3.K.H Abdul Wahab bin Hasbullah dari Indonesia penggagas berdirinya ASWAJA NU dengan maksud untuk melindungi dan mengakomodasi ajaran islam yang sudah di campur aduk dengan budaya dan tradisi lokal peninggalan ajaran nenek moyang.

Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah (lahir di Jombang31 Maret 1888 – meninggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun) adalah seorang ulama pendiri Nahdatul Ulama. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia  pada tanggal 7 November 2014. (kata Wikipedia.co.id. nugarislurus.com)

Itulah mereka 3 orang yang bernama Wahab, 1 orang jahat (Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum) dan 2 orang sholeh ( Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan K.H. Abdul Wahab bin Hasbullah. Kebetulan saya tidak kenal mereka namun kalau bicara Islam di Indonesia perlukah menjadi Wahabi untuk meneladani kesholehan dua orang Wahab ? dialam demokrasi sekarang ini orang sudah biasa melakukan voting untuk menentukan pilihan. 2 lawan 1 atau 67% lawan 33% artinya orang Islam sebaiknya menjadi WAHABI.

Namun sejatinya bukan itu yang menjadi dasar orang Islam harus menjadi WAHABI (baca : Wahhabiyah). Namun Al-Wahhab merupakan salah satu nama sifat Allah Swt (Asma’ul Husna) yang berarti Maha Pemberi Karunia. Al Wahhab diambil dari akar kalimat “Wahaba” yang artinya “memberi” dan “memberikan sesuatu tanpa imbalan”. Dalam Al-Qur’an, kalimat ini ditemukan dalam tiga ayat, QS. Ali Imran 3 : 8 dan QS. Shad 38 : 9 dan 35.  

Allah Swt memberi tanpa mengharap imbalan apapun. Dia akan terus memberi semua yang dibutuhkan makhluk walau makhluk tersebut itu ingkar atau sudah “merasa cukup”. Dia pun akan terus memberi karunia, Dia tahu bahwa makhluk membutuhkan karunia-Nya.

Makna lafazh 'Al Wahhab' menekankan bahwa pada hakikatnya tidak mungkin tergambar dalam benak, mengenai adanya yang memberi, siapapun yang membutuhkannya tanpa mengharapkan imbalan atau tujuan duniawi atau ukhrawi, kecuali Allah SWT. Karena siapa yang memberi disertai dengan tujuan duniawi atau ukhrawi, baik tujuan itu berupa pujian, meraih persahabatan, menghindari celaan atau mendapatkan kehormatan, dia bukanlah 'Wahhab'. Makhluk tidak mungkin memberi secara berkesinambungan sedang Allah dapat memberi secara berkesinambungan dan tanpa batas.

Orang Islam hendaknya meneladani sifat Allah Swt “Al Wahhab” untuk menjadi Wahhabiyah meskipun tentu itu tidak mungkin. Paling tidak setingkat dibawahnya dengan mengorbankan semua miliknya demi Allah semata, bukan demi surga atau terhindar dari neraka. Sifat inipun lebih tepat disebut murah hati. Satu tingkat dibawah adalah mereka yang memberi untuk mengharap surga dan tingkat lebih rendah lagi orang yang memberi untuk mendapat pujian.

Umat Islam harus berusaha menjadi WAHHABI (meneladani sifat Allah Swt “Al Wahhab”). Wallahu’alam bi showab.

Referinsinya : Al-Qur’an, wikipedia.co.id, muslim.or.id, nugarislurus.com, Abdurrahim, Sulaiman ; Fawwaz, Abu / Asmaul husna Effects.  

 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Muslim Djamil
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments