Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

KEDAULATAN RAKYAT VS HEGEMONI BARAT Nasional


 

Di era globalisasi sekarang ini, paradigma pembangunan penting didiskusikan kembali tidak hanya bahwa proyek pembangunan tersebut tidak selalu berhasil bahkan banyak yang gagal, tetapi jauh lebih penting adalah munculnya pergeseran peran negara yang cukup signifikan. Ini secara langsung akan mengurangi kapasitas negara untuk melanjutkan proyek pembangunan. Terlebih lagi globalisasi ekonomi telah membawa serta muatan ideologi fundamentalisme pasar yang menggeser paradigma ”state-led development” ke arah ”market-driven development” secara radikal. 

Pada saat ini, dunia tanpa batas-batas negara (a world without borders), negaranegara dan penguasa militer mereka tidak lagi memerankan peran penting. Bahkan peran mereka semakin memudar dan secara menyakinkan akan segera digantikan oleh peran penting yang semakin meningkat aktor-aktor nonteritorial seperti perusahaan multinasional (MNCs), gerakan-gerakan transnasional, dan organisasiorganisasi internasional. Tegasnya, keberlakuan globalisasi telah menggeser makna kedaulatan rakyat baik di bidang politik maupun ekonomi. 

Esensi dari kedaulatan adalah adanya kekuasaan untuk menentukan tujuan dan cita-cita sendiri, serta mengelola sumber daya sendiri, serta memilih dan menentukan jalan sendiri untuk mencapai tujuan dan cita-cita tersebut. Tanpa itu semua, suatu negara tidak dapat dikatakan sebagai negara yang merdeka. Oleh karena itulah kedaulatan menjadi unsur konstitutif suatu negara. Makna kedaulatan tersebut dalam pelaksanaannya adalah kemandirian suatu bangsa. Kemandirian hanya dapat diperoleh jika suatu bangsa memiliki kedaulatan. Sebaliknya, kedaulatan hanya dapat diwujudkan dan dipertahankan jika suatu bangsa tidak bergantung kepada bangsa lain. 

Dalam latar global masa kini, negara barat telah menunjukkan dominasinya terhadap negara dunia ketiga dalam wujud fundamentalisme pasar. Melalui liberalisasi ekonomi telah menjadikan negara dunia ketiga termasuk Indonesia menyebabkan ketergantungan atau dependensi (dependency) berupa pendanaan dari negara-negara maju dan lembaga-lembaga finansial internasional. Dalam bahasa Santos, dependensi adalah situasi yang dikondisikan di mana ekonomi sebuah negara atau kelompok negara ditentukan oleh pembangunan dan perluasan (kepentingan) dari negara-negara lain. Nampaknya hegemoni juga dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang ada kaitannya dengan imperialisme dengan berbagai bentuknya yang baru. Bangsa-bangsa Asia termasuk Indonesia, Amerika Latin, dan Afrika kontemporer secara politis memang merdeka tetapi dalam banyak hal “terkuasai” dan mengalami “ketergantungan” dengan kekuatan-kekuatan yang berasal dari peradaban Barat. Ketergantungan inilah yang menyebabkan terjadinya penguatan jaringan lembagalembaga yang menentukan struktur sistem perekonomian global, dan ini identik dengan “new imperialism” sebagaimana dikatakan oleh Petras dan Veltmeyer.

Petras dan Veltmeyer menyatakan bahwa “tata dunia baru” yang diasumsikan sebagai satu-satunya alternatif yang tersedia sebagai tenaga pendorong proses pembangunan dan sinyal bagi kemakmuran masa depan dinilai sebagai imperialisme abad 21. Keberlakuan ekonomi neoliberal di Negara sedang berkembang terasa menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi, sebagaimana dikatakan oleh Winarno bahwa proyek liberalisasi neoliberal telah mengancam keamanan manusia (human security) dalam pengertian luas. Bukti mengenai hal ini dapat dilihat dari rendahnya pertumbuhan ekonomi, globalisasi kemiskinan, dan semakin meningkatnya kesenjangan antara si kaya dengan si miskin pasca diterapkannya kebijakan ekonomi neoliberal.

Terdapat begitu banyak berita kegagalan proyek-proyek neoliberalisme di seluruh dunia. Studi-studi yang pernah dilakukan oleh para ahli di beberapa Negara menemukan bahwa proyek neoliberalisme senantiasa berujung pada meluasnya kemiskinan dan ketimpangan dalam distribusi pendapatan. Penelitian yang dilakukan oleh Abrahamsen di Afrika Selatan menemukan bagaimana adopsi kebijakan neoliberal telah menghancurkan kapital sosial sebagai akibat meluasnya kemiskinan dan ketimpangan. Dalam situasi masyarakat yang miskin dan dimana ketimpangan antara penduduk yang kaya dan miskin sangat mencolok seperti terjadi di Afrika Selatan. 

Soekarno, melukiskan, bahwa dengan kedatangan imperialisme modern telah menghancurkan rumah tangga Indonesia, karena Indonesia tetap menjadi tempat pengambilan bekal hidup, terutama oleh pabrik-pabrik Eropa, dan menjadi negeri pasar asing, dan menjadi lapangan usaha bagi modal asing dari Belanda, modal Inggris dan modal Amerika, juga modal Jepang, sehingga imperialisme menjadi internasional karena itu. Hatta, juga menyebutnya Indonesia, hanya semata-mata suatu “onderneming” besar untuk menghasilkan barang-barang bagi penghasil dunia, karena pasar di Indonesia adalah tempat persediaan buruh yang murah, sebagai akibat dari sistem exsport economi, yang memutar “ujung jadi pangkal”. Hatta mengusulkan gagasan “membalik ujung menjadi pangkal”. Dikatakannya, bahwa orientasi pasar domestik yang semula ujung harus dikembalikan menjadi pangkal. Seharusnya perekonomian itu bertolak pada pasar domestik terlebih dahulu, baru kemudian ke pasar internasional

Pembentukan ekonomi oleh elite negara-negara dunia ketiga, berkembang menjadi komoditi politik, yaitu sumber legitimasi terhadap kekuasaan elite politik di pemerintahan. Tetapi, dalam hal ini, pembangunan telah menyimpang dari asas demokrasi ekonomi. Pembangunan bukan lagi dari, oleh dan untuk rakyat, melainkan dari negara dan kekuatan ekonomi asing, oleh modal asing, dan untuk kemakmuran negara-negara industri maju. 

Kita berharap untuk menjadi bangsa yang berdaulat, yang mandiri baik secara politik, ekonomi, maupun budaya. Kemerdekaan dan kedaulatan menjadi tidak bermakna jika suatu bangsa bergantung atau selalu dipaksa menuruti kehendak bangsa lain. Namun demikian kemandirian tidak berarti mengucilkan diri dari bangsabangsa lain. Kemandirian memiliki sisi dinamis antara interdependensi dan independensi. 

 

Jakarta, 19 Juli 2019.


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments