Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PERAN FUNDAMENTAL ALIM ULAMA DALAM KEHIDUPAN Nasional


Tulisan ini disampaikan dalam rangka menyambut “Ijtima Ulama IV”, pada awal Agustus 2019 yang akan datang. Ijtima Ulama yang memperjuangkan “tata nilai” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus dipahami dan diapresiasi. Ontologi “tata nilai”, mengandung makna kebenaran hakiki yang bersumber dari “ajaran Ilahi”.  Oleh karena itu, tulisan ini mencoba memberikan “pengayaan” tentang posisi Alim Ulama dan hubungan fundamentalnya dengan Negara. Keduanya, saling sinergi, saling menghargai, dan hormat-menghormati. Alim Ulama, selalu berperan dan berjuang membawa kehidupan berbangsa dan bernegara ini ke “jalan yang benar” dengan “cara yang benar” pula. Selamat berijtimak !

Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 29 ayat (1) UUD 1945. Dengan demikian, Indonesia bukan sebagai Negara sekularistik (secularistic paradigm), yang memisahkan agama dengan negara. Indonesia adalah menganut paradigma simbiotik (symbiotic paradigm). Dalam hal ini, agama memerlukan negara karena dengan Negara agama dapat berkembang. Sebaliknya, Negara juga memerlukan agama, karena dengan agama Negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan “moral-spiritual”. Karena sifatnya yang simbiotik, maka hukum agama masih mempunyai peluang untuk mewarnai hukum-hukum Negara (hukum positif), bahkan dalam masalah tertentu tidak menutup kemungkinan hukum agama dijadikan sebagai hukum Negara. 

Dalam Islam, antara kepentingan agama dan politik tentulah tidak dapat dipisahkan. Islam mengajarkan pula tentang politik ketananegaraan guna mewujudkan kemaslahatan bagi orang banyak, sesuai dengan misi “rahmatan lil alamin.” Tujuan hakiki Islam adalah kemaslahatan. Tidak ada satu aturan pun dalam “syariah” baik dalam al-Qur’an dan asSunnah melainkan di dalamnya terdapat kemaslahatan. Dapat dipahami, bahwa serangkaian aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam syariah adalah untuk membawa manusia dalam kondisi yang baik dan menghindarkannya dari segala hal yang membuatnya dalam kondisi yang buruk, tidak saja di kehidupan dunia namun juga di akhirat. Kata kunci yang kerap disebut kemudian oleh para Sarjana Muslim adalah “maslahah” yang artinya adalah kebaikan, di mana barometernya adalah “syariah”.  

Dalam perspektif hubungan antara agama dan politik dalam perspektif keamanan, antara agama dan Negara terdapat hubungan yang sangat erat. Agama (baca : Islam) berkontribusi dalam upaya penguatan keamanan dalam negeri dan bahkan dalam bidang pertahanan Negara. Islam tidak membenarkan adanya suatu tindakan yang mengganggu ketertiban umum dan Islam memberikan perhatian penuh dalam rangka menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. 

Dalam rangka memperkuat pemeliharaan Keamanan Dalam Negeri (Harkamdagri), maka peranan Alim Ulama sangat signifikan dan strategis. Peranan Alim Ulama sangat diperlukan dalam memantapkan kewaspadaan nasional guna mendukung penguatan Harkamdagri. Kewaspadaan dan sikap siap-siaga dalam mewujudkan keinginan bersama untuk membangun Indonesia yang memiliki kewaspadaan dan ketangguhan dalam menghadapi ancaman dan tantangan terhadap proses integrasi nasional. Termasuk pula dalam hal penyelanggaraan tata pemerintahan Negara yang baik dan bersih yang menjamin terselenggaranya keberlanjutan (sustainability) kehidupan berbangsa dan bernegara dalam ikatan NKRI. Kondisi obyektif seperti tersebut di atas menuntut ditegakkannya sebuah paradigma Kewaspadaan Nasional yang multidimensional, konprehensif, berwawasan kebangsaan dan ke-Indonesiaan demi keselamatan dan keberlangsungan (sustainability) NKRI. 

Alim ulama merupakan sebagai pilar pembentuk bagi penguatan Harkamdagri, dan bahkan bagi pertahanan Negara dari berbagai ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI. Seiring dengan berlakunya pengaruh perkembangan lingkungan strategis, baik global, regional maupun nasional, sistem pertahanan yang dianut oleh NKRI, belakangan ini banyak memperoleh ancaman-ancaman bersifat nir-militer yang dapat berpotensi terciptanya instabilitas nasional. Ancaman nir-militer terhadap sistem pertahanan Negara adalah ancaman yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi informasi, dan keselamatan umum. Aspek nir-militer ini juga sering dikenal sebagai aspek asimetrik atau asimetris. Kemunculan ancaman-ancaman yang bersifat asimetris telah menggeser paradigma pertahanan Negara dengan menggunakan kekuatan militer (hard power) atau peperangan simetris menjadi peperangan yang bersifat asimetris. Artinya,  tidak menggunakan metode serangan secara frontal, melainkan dapat melakukan serangan dengan menggunakan isu-isu ideologis, politik, hukum, ekonomi, sosial-budaya, dan teknologi informasi. Oleh karena itu, peranan alim ulama sangat strategis dan menentukan bagi keutuhan dan kedaulatan NKRI baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang. 

Dalam rangka menjaga Harkamdagri, diperlukan sinergitas antara Alim ulama, dengan para aparat penegak hukum untuk selalu saling bekerjasama secara kooperatif dengan pendekatan nilai-nilai luhur ajaran agama. Alim ulama memberikan pemahaman yang baik terhadap umatnya dalam rangka menjaga stabilitas keamanan. Kebhinekaan adalah “sunnatullah” yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan tentunya harus dihargai adanya berbagai perbedaan yang ada di masyarakat. Perbedaan itu adalah rahmat bagi bangsa Indonesia, untuk selanjutnya menjadi modal guna membangun bangsa dan Negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 

 

Jakarta, 20 Juli 2019.


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH.
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments