Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

BUDI PEKERTI DARMONO Nasional


 

by M Rizal Fadillah *)

Owner PT Jababeka sekaligus pendiri President University Cikarang Setyono Djuandi Darmono mengusulkan Pemerintah untuk mengganti pelajaran agama di sekolah menjadi budi pekerti. Usulan "berani" ini tentu menimbulkan reaksi publik. Pelajaran agama dinafikan manfaatnya dan dikembalikan ke "rumah" masing-masing keluarga. Budi pekerti lebih universal dan homogen bisa diajarkan pada penganut agama apa saja. Demikian kilahnya. 
Simplifikasi aspek keagamaan arahnya bisa pada sekularisasi yang diawali di bangku pendidikan lalu berimplikasi luas pada kehidupan segala bidang.

Menurut pandangan Darmono karena agama diajarkan di kursi pendidikan maka agama menjadi alat kepentingan politik sekaligus penyebab  terjadinya perpecahan antar anak bangsa. Sedemikian negatifnya pendidikan agama dalam visi Darmono. Sederhana sekali, apalagi alternatifnya adalah budi pekerti. Dahulu memang ada diskursus tentang mata pelajaran budi pekerti tetapi itu untuk menambah pelajaran agama, bukan pengganti. 

Sangat keliru jika pendidikan agama diganti oleh budi pekerti, karena :

Pertama melanggar Pancasila. Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada hubungan manusia dengan Tuhan dan hal ini hanya ada pada agama. Agama selalu mengaitkan ajaran kehidupan profan dengan aspek imanen. Kehidupan dan pertanggungjawaban setelah mati. Jika pendidikan hanya berbasis kemanusiaan yaitu budi pekerti, maka nilai-nilai ketuhanan menjadi sirna. 

Kedua, salah besar bahwa budi pekerti itu universal, homogen, dan mempersatukan. Nilai nilai kebaikan "manusiawi" yang dikenal dengan budi pekerti pun sebenarnya spasial dan temporal. Bahkan nuansa kedaerahan sangat berpengaruh terhadap perbedaan. Etis di satu tempat belum tentu untuk tempat yang lain. Belum lagi nilai-nilai budi pekerti itu terbatas, sulit dikategorikan dalam strata yang meningkat. Pelajaran SD sama saja dengan SLTP atau SLTA. Budi pekerti untuk Perguruan Tinggi lebih sulit lagi pola pembedaannya. Berbeda dengan agama yang dapat dibuat kurikulum  bertahap dan meningkat. 

Ketiga, budi pekerti itu sempit dan formal. mengatur perilaku sangat normatif.  Agama, apalagi Islam, di samping normatif atau mungkin dogmatik, juga dapat bersifat fungsional. Agama bisa membangun etos kerja, agama dapat menata kehidupan ekonomi atau politik yang konstruktif, agama mendorong kebaikan ruhani dan jasmani. Budi pekerti hanya bersandar pada nilai nilai susila.  Tidak menjadi inti dari pengembangan apapun. Sekedar kebaikan sikap. Anak harus menghormati orang tua, orang sakit dijenguk atau anjing haus diberi minum. 

Darmono terpaksa dipertanyakan basis keagamaannya. Karena agama yang dianut berpengaruh terhadap cara berfikir dan bersikap. Mungkin saja dunia profan Darmono di bidang usaha yang sukses itu berpengaruh. Membuang agama sebagai paradigma adalah khas materialisme yang kesananya komunisme. Semua bertumpu pada hubungan interaksi manusiawi semata. Ini yang dikenal dengan faham "anthroposentrisme". Manusia menjadi pusat segalanya. Tuhan tidak ada atau tak berpengaruh. 

Atau jika dia menganut agama yang sekuler "Berikan Kaisar haknya Kaisar dan Tuhan haknya Tuhan" maka layak jika agama di tempatkan di rumah saja, tidak berada pada pergaulan sosial termasuk ruang pendidikan. Agama difahami hanya urusan mati dan masa nanti. Tak ada fungsi agama untuk manfaat kini. Agama semata soal dosa dan pahala yang  bersanksi pasca kematian.
"Kini" hanya momen untuk optimalisasi eksploitasi diri demi kebahagiaan duniawi. 

Pandangan dan usul Darmono bukan untuk Indonesia yang warganegaranya menganut agama, melainkan untuk di daerah pedalaman yang sama sekali tak tersentuh ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban. Karena iptek dan sivilisasi kini pun mulai bersandar pada agama. Sekedar tahu saja. 

*) Pemerhati Politik dan Agama
 

Bandung, 6 Juli 2019


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : M Rizal Fadillah
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments