Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

meng-Kritik Arsitek, meng-Kritisi karya Arsitektur #3 Nasional

 

PESAN, TANDA dan MAKNA dalam perwujudan Arsitektur Ruang Publik

sambungan 

Serie 2: ’meng-Kritik Arsitek, meng-Kritisi karya Arsitektur'.


diolah oleh : 

Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.) 

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB, 
Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society, 
Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,
Ketua 3 Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.

 

Bagian 4.

QS 11 Hud ayat 101: “Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri, karena itu tidak bermanfaat sedikit pun bagi yang mereka sembah selain Allah. Ketika siksaan Tuhanmu datang, sesembahan itu hanya menambah kebinasaan bagi mereka”.

'Arsitektur semestinya mewadahi kebutuhan manusia, bukan hasil eksperimen atas ego arsiteknya' (Prof. Dr. Ir. Sandi Siregar, MAE. IAI).

Estetika Islam tidak selalu geometris, dengan demikian ketika muncul atau pun dimunculkan bentuk segitiga, akan lantas bisa juga dihindari. Estetika Islam sangatlah lapang varian yang dapat diterapkan. Dengan demikian, argumentasi ‘ketidak-sengajaan’ arsitek memunculkan segitiga illuminati, misalnya, dengan segera dapat disanggah apabila kejadiannya kok ya berulang-ulang. Karena segitiga illuminasi itu memiliki tanda dan perbedaan khas dengan segitiga lain  pada umumnya.  

Suatu ketika ditanyakan oleh yang saya hormati Prof. Engkus Kuswarno, guru besar ilmu komunikasi Universitas Padjadjaran, kepada saya tentang dekorasi simbol segitiga di sebuah masjid berukuran sedang di bilangan kota Bandung. Pada bagian tengah atas segitiga-nya dihadirkan  lampu yang sepintas menyerupai mata satu.  “Apakah ini simbol illuminati Dajjal?” Saya pun tersenyum simpul dan langsung mengatakan: “…bukan!” Saya langsung dapat mengenalinya sebagai perbuatan ‘latah' sang dekorator, pengurus DKM atau Marbot masjidnya. Sebuah ‘ketidak-sengajaan’ karena keterbatasan  ilmu yang dimiliki. Saya dapat mengenali tanpa berlama-lama bahwa masjid itu dikerjakan tanpa jasa arsitek, boleh jadi hanya melibatkan ‘anemer’/tukang bangunan, sarjana muda teknik sipil, atau bahkan otodidak. Keterlibatan arsitek akan terlihat dari karakter dan ‘ruh’ bangunan yang konseptual, sarat penjelajahan estetika, tidak akan membiarkan tiang atau balok bangunan mengganggu penampilan massa bangunan, kecuali semua elemen telah dipertimbangkan dan di-‘treatment’ konsekuensi estetikanya.  Siapa pun arsitek yang peka estetika Islam dan mengenali pesan ancaman Dajjal akan mudah  membedakannya. 

Pra-kondisi arsitek sebagaimana diterangkan di atas menjawab teori simplifikasi bentuk bacang dan piramida Dajjal. Menurut hemat saya, terlalu sederhana dan malah nampak sebagai upaya cocoklogi, bahkan ketika menghubungkan segitiga ‘raudhah’ di masjid Nabawi dengan segitiga lluminati. Simbol illuminati Dajjal itu khas dan bisa dideterminasi. Bagi saya pribadi, hal ini adalah retorika yang dapat menyesatkan ummat, manakala menganggap simbol Dajjal baik-baik saja disematkan dalam masjid. Arsitek Islam patut menekan ego eksprimentalnya dalam rangka mewadahi kebutuhan ummat, sebagaimana ‘quote’ Profesor Sandi Siregar rahimahullah. Sandi Siregar dan Achmad Noe'man merupakan arsitek besar, tegar, sekaligus teguh menjalankan prinsip-prinsip etika profesi. 

Beberapa kali juga, saya mendengar pesan pak Ahmad Noe’man rahimahullah, ketika beliau menyatakan bahwa penghargaan (award) hendaknya tidak dianggap sedemikian pentingnya. Bavi, sapaan hangat memuliakan dari putra-putri dan kerabat terhadap pak Noe’man rahimahullah, malu hati dan pada pada akhirnya akan menolak jika harus ‘memuji diri sendiri’ terlebih dahulu, sebagai persyaratan dalam formulir isian untuk meraih penghargaan. Bagi beliau yang mesti lebih diutamakan adalah penghargaan dari Allah Azza wa Jalla manakala karya yang diwariskan  membawa maslahat untuk ummat.

Perbincangan tentang award ini sejujurnya adalah respon pribadi terhadap nominasi yang ditawarkan Abdullatif Al Fozan Award yang berasal dari kerajaan Saudi Arabia terhadap sejumlah desain masjid karya  firma arsitek Urbane Indonesia. Demikian halnya patut diingat bahwa kendati diketahui bahwa Saudi Arabia adalah bagian dari pusat peradaban Islam kiwari (sekarang), namun Saudi disinyalir adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari mereka yang terimbas  atau paling tidak diincar konspirasi New Wold Order (NWO).  Apalagi sekarang sangat banyak kumpulan arsitek muda yang gemar dengan pengaruh ideologi ‘asing’, dan saya pikir tak terkecuali dari negara-negara Islam di Timur Tengah sekali-pun. Kewaspadaan itu sangatlah diperlukan.

Saya pun bersikukuh, simbol kontroversial ini mesti diupayakan direduksi dalam masjid-masjid  ummat, demi kemaslahatan ummat dan marwah Islam.
 

Bagian 5

Sejatinya, manusia tidak hanya terdiri dari raga saja, tapi juga terdapat budi pekerti dan segala macam yang terkandung di dalamnya. Penyakit yang diderita badan manusia pun merupakan ejawantah dari cara manusia memandang dirinya sendiri. 

Jadilah bagian ini menjadi relatif sangat terpisah dengan bagian-bagian sebelumnya. Ini adalah kisah arsitek dan kekuasaan. Keteladanan seorang arsitek dengan adab yang  dijunjung tinggi.

Saya beberapa waktu ini gandrung mengkuti sejarah Islam di tanah Jawa. Saya pun baru mafhum bahwa ternyata arsitek keraton Yogyakarta dan Surakarta itu konon adalah orang yang sama. Ketika beliau di Surakarta bernama Pangeran Mangkubumi dan ketika pindah di Yogyakarta nama beliau menjadi Sultan Hamengkubuwono I. Arsitek yang juga bangsawan yang berkuasa. 

Tiga sosok santri utama tanah Jawa, saya dengar dan saya ‘baca’ dari catatan Ust. Salim A. Fillah, hafizhahullah, penulis muda dari Yogyakarta, adalah Pangeran Diponegoro, kakek buyutnya Pangeran Mangkubumi, dan kakek buyutnya lagi yang namanya yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Mereka senantiasa memberikan contoh bagaimana menjadi muslim yang shalih, yang mempraktikan penggunaan simbol-simbol dalam pengajaran kepada masyarakat. 

Ustadz Salim menceritakan bagaimana panggung Krapyak yang terkenal itu dirancang oleh arsiteknya berbentuk seperti rahim. Di sana biasanya Sultan sebagai arsiteknya memelihara hewan rusa. Sultan biasa memanah rusa dari atas, sebagai simbol konsepsi: jika panahnya mengenai rusa, maka itu adalah gambaran seperti sperma mengenai sel ovum. Terwujudlah sebuah konsepsi di situ. Selanjutnya di dalam rahim (krapyak) itu ada desa yang namanya ‘mijil’ . Mijil artinya lahir. Bermakna di situlah kelahiran manusia bermula. 

Beranjak dari panggung Krapyak berjalan ke utara akan tiba di plengkung Nirboyo, Gerbang Keraton Yogyakarta di sebelah selatan namanya Plengkung Nirboyo. Di sebelah kanan jalannya ada pohon ‘asem’, yang kiri pohon ‘tanjung’. Selalu begitu. Kok begitu? Karena dalam tradisi Islam mendidik anak itu harus banyak ‘mesem' dan ‘menyanjung’. Karena bayi itu ‘sengsem', banyak memberikan pesona kepada manusia. Manusia yang akhirnya ‘kesengsem’.

Di alun-alun selatan keraton disemarakkan dengan sejumlah pohon seperti pohon asem tapi warna daunnya lebih muda, yang disebut sebagai  pohon sinom. Tanda masa ‘kemudaan’, yang posisinya adalah di alun-alun, panggung, ruang publik. 

Jalan menuju alun-alun itu ada lima, yang dua halus yang tiga kasar, gambaran dari panca indra. Yang dua ini paling banyak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, ‘…inna sam’a wal bashara…’ yaitu pendengaran dan penglihatan. Lihat QS 17 Al Isra ayat 36. 

Yang tiga, dulu ada tiga macam pohon, yaitu ‘pakel, pelem, kuweni’.  Semuanya adalah jenis mangga-mangga an. ‘Pakel’ itu adalah mangga hutan. ‘Pelem’ itu pohon mangga yang biasa dikenal. ‘Kuweni‘ itu sejenis mangga juga, bentuknya bulat, seratnya agak lebih kasar. ‘Pakel pelem kuweni’  ini menyimbolkan  orang yang ‘baligh’ harus ‘pakel’. ‘Pakel’ itu artinya ‘akhil’, tidak boleh hanya ‘baligh’ tapi harus juga ‘akhil’ yaitu harus mempergunakan akal. Dia sudah mulai ‘mumaiyiz’. semisal bisa membedakan yang mana yang benar dan yang salah. ‘Pelem’ itu dekat dengan makna ‘gelem’, yaitu artinya mau. Mau melaksanakan syariat karena dia sudah ‘mukallaf’.  Syariat apa? ‘Mumaiyiz' yang ‘mukallaf’, sudah terkena beban-beban syariat, sehingga harus ‘gelem’/bersedia menjalankan syariat. 

Yang ketiga ‘kuweni', artinya ‘wani (berani)’, bertanggung jawab karena semua amal perbuatannya mulai saat itu sudah ditulis, dan kelak akan dipertanggungjawabkan di yaumul akhir. 

Pada dua generasi terdahulu sebelum hari ini,  jumlah pakel-nya 61 pelem-nya 63 kuweni-nya 64. 61 adalah usia Rasulullah SAW secara hitungan Masehi, 63 secara kalkulasi Hijriyah, sementara 64, merupakan usia Nabi menurut pitung  tahun Jawa. 

Perjalanan naik selanjutnya akan dijumpai ‘Siti Hinggil’. Didapati pohon di sisi kiri dan di sebelah kanan, kiri Soka kanan Cempora. Soka menyimbolkan anak laki-laki yang sudah masuk ‘ihtilam’ (mimpi basah), cempora menyimbolkan anak perempuan sudah haid.  Keadaan sebagaimana demikian mengharuskan pemisahan fisik dengan ‘siti hinggil', dengan tanah yang tinggi. Tidak boleh cempora dan pohon soka di tanam di satu tempat bersamaan, karena yang sudah ‘baligh’ harus dipisahkan, tidak boleh ‘ikhtilath’ harus dipisah, ini soka, ini cempora. Pemisahnya itu apa? Siti. Siti itu tanah, tanah itu asal kejadian manusia. Hinggil itu artinya tinggi, sebagai simbol manusia yang memiliki akhlak dan adab yang tinggi/luhur. Pada tataran filosofis selanjutnya harus ada guru yang mulai mengajar dengan pengajaran yang baik, dan guru itu pun harus memiliki akhlak perangai yang mulia. Salah satu tanda akhlak yang mulia itu adalah mampu memisahkan laki-laki dan perempuan ini dalam alamnya masing-masing dan diajari akhlak dan adab masing-masing. 

Pesan inti dari sepintas tata ruang dan bentuk arsitektur keraton Jawa adalah bahwa yang namanya Jawa itu aslinya -asli pakai ‘shad’ (sebagai sebuah penekanan)- awal kebudayaannya simbol-simbolnya telah dibangun oleh para santri. Santri utamanya di antaranya adalah Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalogo Ngabdurahman Sayiddin Panotogomo Khalifatullah (Sri Sultan Hamengkubuwono I) atau Pangeran Mangkubumi, seorang bangsawan  yang berkuasa yang juga seorang arsitek.  Seseorang yang mampu membagi perannya yang proporsional, secara simbolik memberikan ketauladanan bagi masyarakatnya.

Kendati berada pada rentang waktu, situasi, kondisi dan tempat yang berbeda, sangat menarik diingatkan kepada kearifbijaksanaan seorang penguasa masyhur yakni Umar bin Abdul Aziz.  Sosok seorang pemimpin yang adil, arif bijaksana lagi berilmu. Sungguh banyak nian kisah teladan yang beliau tinggalkan bagi para peniti kebenaran. Penguasa yang bersegera mematikan ‘lentera’ negara ketika membicarakan sesuatu yang menyangkut pribadi dan keluarganya, sebagai simbol  adab sekaligus haq! Lagi-lagi tentang ketauladanan seorang yang berkuasa terhadap rakyatnya. Mampu membedakan kepentingan ummat dan ‘ego’ pribadi-nya.
 

Bagian 6

shalaatullah salaamullah, ‘alaa thaaha rasulillah
shalaatullah salaamullah

(‘alaa yaasin habibillah) 2x

tawassalna bibismillah, wabilhaadi Rasulillah
wa kulli mujaahidin lillah,

(bi ahlil badri yaa Allah) 2x

Illahi sallimi-ummah, minal afaati wannikmah,
wa min hamin wa min ghummah

(bi ahlil badri yaa Allah) 2x
 

lir ilir  lir ilir (bangkitlah  dan sadarlah dari keterpurukan)
tandure wis sumilir (agama Islam telah  tumbuh dan berkembang)
tak ijo royo-royo (ajarannya begitu menyejukkan jiwa)
tak sengguh temanten anyar  2x (bagaikan meraih kebahagiaan lahir dan bathin)
bocah angon-bocah angon (para pemimpin, para penguasa)
penekno blimbing kuwi (ambilah ajaran Islam)
lunyu-lunyu penekno (walau susah dan banyak rintangan, tetaplah imani dan yakini)
kanggo mbasuh dodot iro 2x (untuk membersihkan kotoran yang melekat pada jiwamu)
dodot iro-dodot iro (keimananmu, keyakinanmu, ketaqwaanmu).
kumithir bedhah ing  pinggir (telah luntur/pudar dan rusak di beberapa bagian)
dondomono,  jlumatono (perbaikilah, sucikanlah dengan berdzikir dan mengaji)
kanggo sebo mengko sore 2x (sebagai bekal di saat menjelang ajal/menghadap Allah SWT.)
mumpung padhang rembulane (selagi kamu masih hidup, mampu dan sehat jiwa raga)
mumpung jembar kalangane (selagi masih terbuka hidayah dan kesempatan bertaubat)
yo surako…surak iyo (dan jawablah seruan Allah…dengan keimanan penuh) 
shalaatullah…salaamullah

Syair (yang sering diperdengarkan pengasuh saya di kala belia) besutan Raden Mas Said rahimahullah (yang dikenal luas sebagai Sunan Kalijaga) di atas, mengandung pesan simbolik yang luhur. Begitulah Islam diajarkan di tanah Jawa.  Masyarakat tanah Jawa lekat dengan simbolisasi. Karena orang Jawa itu konon agak susah diajak bicara vulgar. Maka ketika mengajarkan agama pun, dulu para ulama menggunakan simbol. Maka siapa bilang simbol itu tidak penting? Apalagi ketika masa penjajahan Belanda dilakukan tekanan-tekanan terhadap ajaran yang shahih. 

Manakala mencoba menelusuri jejak simbolik itu di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, terdapat ukiran salak, yang dapat dikaitkan dengan : ‘…man salaka thariiqon ilman sahhalallaahu lahu thoriiqon ilal jannah’ yang artinya: Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim).

Ketika mengamati pagar, pager lankan nya mesti ukirannya adalah waluh (labu Jawa), karena yang membentengi kita dari kemurkaan Allah dan api neraka adalah tauhid. Tauhid dinukilkan dalam sebuah surah bunyinya ‘…qul huwallahu Ahad’ (QS 112 Al Ikhlash ayat 1).  Karena katanya orang Jawa agak kesusahan membaca ‘wallahu’, kemudian disederhanakan melalui kata  ‘waluh’. 

Prosesi pertama memasuki masjid lazimnya diapit pandangannya oleh keberadaan berjajar-jajar pohon sawo. Lho, kenapa berjejer, ya? Katanya, karena dawuh (perintah) : ‘…sawwu shufuu fakum fa inna taswiyatash shufuufi min tamamishsholat’ (luruskan shaf-shaf barisan kalian, karena meluruskan shaf termasuk bagian dari mendirikan shalat. HR Al Bukhari) karena ‘inna laaha yuhibbu ladziina yuqaatiluuna fii sabiilihi shaffan ka-annahum bunyaanun marshuush’. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (QS 61 Ash Shaf ayat 4).  
Ketika menapaki  serambi masjid, ukiran  paling luar berbentuk buah nanas. karena masjid tempat berlindung dari musuh hakiki manusia yaitu syaithan yang berwujud jin dan manusia.  ‘…qul a’udzu birabbinnaas,  malikin-nas, illahin-nas’, dst. (QS 114 An Naas ayat 1-6)

Jika menatap dekat langit-langitnya ada ukiran tanaman yang saling bertaut satu sama yang lainnya (sulur-sulur), disebut sebagai ‘lung-lungan’.  Artinya tulung-tulungan atau saling menolong: ‘…Wa ta'awanu 'alal birri wat taqwa, wa la ta'awanu 'alal itsmi wal 'udwan’ - masiid itu tempat saling tolong menolong di dalam kebajikan dan  ketaqwaan.

Pintu utama masjid, persis di bagian muka, adalah tempat di mana  para qodhi dulu mengadakan mahkamah  pengadilan.  Pengadilan Surambi di dalam angger-angger agung, kitab undang-undang kerajaan, disebutkan sumber rujukannya kitab ‘ fatakul mungin’, ‘fatakul wahab’ dan ‘tuhfah’. Di sana di belakangnya didapati ukiran wajik. Menurut Ust. Salim A. Filah lagi, wajik itu berhubungan dengan pengadilan di akhirat  ‘…wajii-a yauma-idzin bijahannama yauma-idzin yatadzakkaru- insaanu wa-anna lahudz-dzikr(a)’. Lihat QS 89 Al Fajr ayat 22

Mengapa diukir wajik? Silokanya adalah bahwa pengadilan dunia bisa dilalui dengan kebohongan, tetapi tidak demikian halnya kelak di akhirat. Ketika Allah datangkan jahannam, pada hari itu manusia mengingat kembali apa yang telah diperbuatnya, dan bahwa kemudian dia harus sadar dan insyaf, karena dulu dia pernah diperingatkan di dunia. 

Tiang-tiang masjid bagian tengah dan bawah ada ukiran dalam bentuk namanya semen. Kenapa dinamakan demikian? ‘…asluha sabituw wa far’uha fis-sama. Tu’ti ukulaha kulla hinim bi idz rabbiha’ (QS Ibrahim 24-25). Semen dari kata semi, semi selalu tumbuh, tumbuh berakar mekar memberi buah. Itulah sifat kalimat tauhid yang telah bersemayam di hati seseorang mu’min seperti yang diumpamakan Allah.

Atap wuwungan masjid berbentuk ‘tajub’, di puncaknya bukan kubah, tetapi ukiran daun keluwih. Masjid-masjid yang ada hubungannya dengan keraton Mataram itu umumnya pada bagian atasnya menggunakan ukiran daun keluwih.

Mengapa kok daun keluwih? Keluwih itu ‘Kaluwihan’ (Kelebihan), bahasa Arabnya al-Fadla. 

Hubungkan dengan ‘…qul innal fadla bi adhillah’, yang namanya keutamaan, anugerah agung  itu berada di dalam tangannya Allah WT. 
 

Bagian 7 Sanwacana

Seseorang mengatakan  kepada saya bahwa semiotika adalah cabang pendekatan yang menafsir objek berdasarkan pengalamannya. Sampai di sini saya dapat merasakan ada benarnya juga. 

Kata ‘lugu', dapat disandingkan dengan ‘jujur’, pada rangkaian berikutnya ‘yang lugu dan jujur itu adalah boneka’. Lho, kenapa boneka? Karena boneka tidak memiliki kesadaran dan akal untuk ‘berkiprah’ mandiri. Boneka tampil itu apa adanya dengan kata lain lugu dan jujur. Ini adalah sebuah peristiwa semiotika!

Sejurus saya teringat quote pendek ‘bung Profesor Ro-Ger’ (Rocky Gerung, red.):

…Perlu peristiwa besar untuk membangunkan mereka yang disihir boneka.”

Ungkapan satire yang menyindir ‘nyinyir’nya kehidupan masyarakat Indonesia hari-hari ini terhadap kebaikan apalagi kebenaran. Semoga saya dan kita semua terbebas dari ancaman ‘tersihir’ semacam itu karena masih dikaruniai akal sehat untuk menyadari bahwa yang tampak baik belum tentu benar, namun yang benar pasti baiknya.

Ah, betapa serunya bermain dengan retorika dan semiotika itu. Yuk kita ‘mainkan orkestranya’, jadikan Indonesia menjadi laboratorium filosofi arsitektur masjid, sembari menyegarkan ingatan kembali tentang ‘…wa ta’awanu ‘alal-birri wat-taqwa’ - masjid itu tempat saling tolong menolong di dalam kebajikan dan  ketaqwaan.

Selesai dulu sementara.

... Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh 
 

Semarang, 15-16 Syawal 1440 H/19-20 Juni 2019

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments