Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

meng-Kritik Arsitek, meng-Kritisi karya Arsitektur Nasional


 

PESAN, TANDA dan MAKNA dalam perwujudan Arsitektur Ruang Publik

Serie 2: ’meng-Kritik Arsitek, meng-Kritisi karya Arsitektur'.

diolah oleh : 
Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.) 

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB, 
Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society, 
Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,
Ketua 3 Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.

 

_Bismillaahirrahmaanirrahiim

QS 10 Yunus : 32. 'Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?'

Ayat Kitab Suci di atas akan saya coba membantu mengantarkan menuju bahasan 'kebaikan dan kebenaran' dalam perspektif awam saya sebagai seorang pegiat arsitektur, desain dan seni. Saya meyakini yang benar pasti baik, namun yang baik belum tentu benar. 

Bagian 1
Ini kisah menarik dari seorang ulama dan arsitek. Kyai juga manusia ternyata.  Apalagi cuma sebatas seorang arsitek, yang yo ndak perlu sok-sok adu argumen jika bersama Kyai. 

Syahdan, sahabat saya seorang arsitek mendampingi pak Kyai untuk berangkat presentasi proyek Islamic Society kepada seorang donatur kelas kakap.
Diawali dengan taujih dari pak Kyai, lalu dilanjutkan presentasi karya arsitektur oleh sahabat saya ini.

Sungguh mengejutkan bahwa suasana syahdu ketika pak Kyai yang bertutur kata lembut menyejukkan berbanding terbalik dengan riuh rendah kritikan pedas ketika sang arsitek sahabat saya presentasi dan diskusi.

Sejurus kemudian dalam perjalanan pulang pak Kyai menanyakan kepada sang arsitek yang mendampingi nya: '... kok akang nampaknya tenang-tenang saja dikritik dan 'dihujat' habis-habisan karyanya teupi ka pejet (sampai remuk bubuk, red.)? Saya mah keuheul jero hate, enya ge ustadz. Da saya teh jelema oge (saya sih kesal di dalam hati, kendati seorang ustadz. Saya khan manusia juga, red.)

Jawaban sahabat saya cukup membuat terperangah ketika mendengar nya: 'Saya kan selain arsitek ya akademisi juga pak Yai. Terbiasa menghadapi suasana sidang tugas akhir, skripsi tesis, disertasi dan sebagainya. Nggak perlu tarik urat leher/defensif dalam defense. Jika dirasa perlu diperbaiki, mangga kita selaraskan. Yang penting terjadi pembelajaran dan mendahulukan kemaslahatan menjauhkan diri dari kemudharatan. Bukan menang-menangan. Karena karya arsitektur sih bukan ayat kitab suci yang tabu diperbaiki. Ia adalah bagian dari dzikir, fikir, ikhtiar (pinjam kata-katanya Aa Gym ☺).'

Wuih...keren dan arif bijaksana sahabat saya ini menghadapi sisi 'manusiawi' nya sang Kyai. Lugas, tanpa harus memaksakan diri menggunakan cocoklogi membandingkan 'filosofi bacang' dengan piramida Mesir yang jaraknya bagai dari Sabang ke Merauke. afwan jiddan. 
 

Bagian 2

Men-desain saya yakini adalah bagian dari ibadah, manakala kesadaran dan sensitivitas, sense terhadap user, men-generate upaya menyodorkan
pendidikan bagi publik. Bukan sekadar menjadi
selebgram dan karya menjadi instagramable. 

Saya sejurus teringat salah seorang sejawat sesama pegiat Arsitektur dan Seni yang merancang 'rumah lampu warisan' yang instagramable, kebetulan ia pun seorang selebgram.

Karyanya memang terbilang unik, memanfaatkan daur ulang sejumlah lampu dan mengeksplorasi potensi bentuk, size dan shape, glare-nya material, lindap, gelap terang, pendeknya permainan cahaya pun tidak luput menjadi garapannya. Hasil akhirnya :...amazing! Terlepas dari kelemahan ketika menyusun DED dan mungkin juga RAB. Yang penting hasilnya 'wah', 'eyecatching' dan 'instagramable'.

Karena kebetulan sebagai selebgram juga, sejawat ini lantas menyelenggarakan open house mempersilahkan kerabat, sahabat dan sejawat berkunjung untuk turut serta berpartisipasi menikmati karyanya.

Alhasil, banyak yang berdecak kagum (lumrah rasanya) namun bagi yang kritis justru ditemukan perilaku yang unpredictable. 'Kritikus' ini membayangkan tangannya menyentuh dan mengusap-usap lampu dan membuka tutup atasnya. Ia katakan: '...siapa tahu banyak jin lampu wasiat Aladdin yang akan keluar dari sarangnya dan memenuhi paling tidak tiga permintaan'. 

Sejenak saya berpikir sepertinya itu nge-nyek (olok-olok, red.) atau sekadar 'dorongan bermain' sesama seniman arsitek, namun itulah sejatinya memahami sebuah karya. Arsitek mesti siap dikritik tanpa harus 'baper' dan pada akhirnya tergugah dengan sendirinya bahwa kritik adalah bagian dari introspeksi alamiah. Dipahami sekaligus memahami. Manstabh... kan? 

bersambung...

...Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
 

Bandung, menjelang Syurq pagi hari 8 Syawal 1440 H.

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments