Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

Filosofi Bacang, Membungkus Makna dalam Kemasan Makanan Tradisional Oase Iman


 

diolah-oleh : Tendy Y. Ramadin

Entah mengapa hari-hari ini ‘cocokologi’ itu, anyway, by the way, busway, menjadi menyenangkan juga. Populer dan sederhana’, tanpa harus meminta yang berpendapat berbeda untuk sepakat, dengan kata lain sepakat untuk tidak sepakat.

Saya akan awali dengan mengutip sedikit tulisan instruksi kepada Wali Kota Jakarta Utara dari pak Gubernur DKI Jakarta  Anies Baswedan, Ph.D,  yang sedang naik daun: 

…Saya baru membaca bahwa tiang bambu bendera peserta Asian Games di Penjaringan diturunkan oleh PPSU sebagai reaksi atas serangan di media dan di media sosial.Pemasangan bendera itu adalah inisiatif warga. Jangan halangi, jangan rendahkan dan mari kita izinkan rakyat merayakan Asian Games dengan kemampuannya, dengan ketulusannya. Bambunya memang bekas tapi ketulusannya original. Bambunya agak melengkung, tapi niat mereka lurus. Bambunya pendek, tapi semangat mereka tinggi sekali.

Dan, sampaikan pada semua. Jangan sekali-kali anggap rendah tiang bendera dari bambu. Itulah tiang yang ada di rumah-rumah rakyat kebanyakan. Penjualnya rakyat kecil. Pengrajinnya pengusaha kecil. Penanamnya ada di desa-desa. Biarkan hasil panen rakyat kecil, hasil dagangan rakyat kecil ikut mewarnai Ibukota. Jangan hanya gunakan tiang besar buatan pabrik yang ukuran kekayaannya sudah raksasa.

Saya berharap, tiang bambu dan bendera sederhana inisiatif warga ini malah akan jadi inspirasi bagi warga kampung lainnya untuk mempercantik lingkungannya, menyambut tamu-tamu yang datang ke Jakarta yang ikut mereka rasakan sebagai rumah besar milik mereka.

Lewat memo ini saya instruksikan untuk dipasang kembali. Harap  pastikan keamanan dan kerapiannya. Terima kasih.

Sebuah tulisan yang menyiratkan kepiawaian perangkai kata-katanya dengan bahasa tinggi’, seraya saya mengingat kembali hikayat pejabat yang dicintai rakyatnya karena mencintai rakyatnya, betapa pun dalam konteks kutural berbeda. Bambu adalah 'kata kunci' pentingnya. Namanya juga cocokologi, he he.

Alkisah pada zaman Dinasti Zhou di Tiongkok,Qu Yuan, seorang Manteri yang dicintai rakyatnya melompat ke Sungai Miluo asbab kehadirannya dianggap mengganggu penguasa. Berkaitan dengan simpati rakyat kepadanya pada saat itu, ‘bakcang' dilemparkan rakyat sekitar ke dalam sungai untuk mengalihkan perhatian ‘naga’ di dalamnya supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Pada masa kemudian, bakcang menjadi salah satu simbol perayaan Peh Cun atau ‘mendayung perahu’. Di Kota Tua Jakarta, festival ‘mendayung perahu’ konon masih  kerap dilangsungkan.

Dari ensiklopedia bebas Wikipedia berbahasa Indonesia, diketahui Bakcang atau bacang(Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: rouzong) adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata 'bakcang' sendiri berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia.

Bakcang secara harfiah ‘bak’ adalah daging dan ‘cang’ adalah berisi daging jadi arti bakcang adalah berisi daging, namun pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Daun pembungkus biasanya dipilih daun bambu panjang dan lebar yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Setelah itu digunting pangkal daun agar memudahkan untuk membungkus makanan, dan terakhir direbus dahulu dalam air mendidih hingga layu dan bulu-bulu halus halusnya juga layu. Sementara tali pengikat diambil dari bagian bambu juga ikatannya secara keseluruhan membentuk limas segitiga. Limas segitiga ini adalah simbol kemanusiaan, ke-Tuhan-an dan kecintaan kepada alam, yang kalau dalam terminologi muslim identik dengan ‘habluminannas, habluminalLah dan habluminal ‘alam”

So, saya mencoba menghubungkan tali kecintaan pemimpin dan rakyatnya itu dengan limas segitiga bacang, dan realitasnya bacang menjadi panganan populer di masyarakat kita tanpa harus dihubungkan jauh-jauh dengan konteks ‘mitos’nya karena memang sudah ter-degradasi. Artinya, aman dari kurafat dan sihir, insya Allah.

Ketika menjadi salah satu anggota Satgas Pusat Kajian Makanan Tradisional (PKMT) Madya 

Lembaga Pengabdian Masyarakat - ITB 2001, saya dan teman-teman sempat sedikit membuat simpulan kecil, bahwa kemasan makanan tradisional menciptakan identitas dan menyampaikan ‘pesan budaya’.

Kemasan merupakan pemenuhan kebutuhan yang terjadi akibat adanya hubungan antara perwujudan produk dengan konsumen, perimbangan antara fungsi dan kebutuhan. Dalam paradigma modern, kemasan yang ideal erat kaitannya dengan kemampuannya melindungi barang dari kemungkinan rusak, tercecer, menguap dalam pengangkutan dan pengiriman barang dari produsen ke tangan pembeli. Kemasan mempunyai arti bungkusan atau “terbungkus dengan rapi dan teratur”. 

Kemasan baru disebut ideal ketika kemasan dengan bahan, bentuk serta tekniknya telah terbukti mampu memberikan identitas terhadap ‘sesuatu’ yang dikemasnya, membujuk agar orang tergiur meraih, membeli dan menikmati isinya. Pada sisi lain, desain kemasan yang ideal sepantasnya dikenali karena ramah lingkungan dengan memanfaatkan teknologi sederhana, aroma yang khas, dan membersitkan ‘pesan budaya’. Ketika memperhitungkan jenis dan bentuk barang, seyogianya diusahakan agar kemasan memiliki kemudahan dalam pemakaian. Artinya, bisa dibuka dan dinikmati isinya tanpa harus repot-repot menggunakan alat bantu.

Kemasan memikul tugas yang tidak ringan. Manakala menciptakan kemasan yang ideal, ada banyak aspek dan kriteria yang memengaruhi. Dibalik desain, masih ada faktor ekonomi (budgeting harus dipertimbangkan dengan matang), teknologi, lifestyle, tujuan fungsional, kepentingan marketing, serta identitas produk. 

Menurut Dr. Didit Widiatmoko (2001), kemasan yang ideal adalah kemasan yang merangkum tiga hal sekaligus, yakni mampu melindungi isinya dari cuaca dan saat pengiriman, bisa menyampaikan pesan dan sarana ‘iklan’ si produk, serta jenis kemasannya tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan.  Setelah digunakan, pesannya adalah ajakan mulai peduli pada lingkungan. Perencanaan dalam mendesain kemasan juga merupakan salah satu faktor yang wajib diperhitungkan, mulai dari bagaimana si produk akan dipegang, diletakkan di-display, dan dikemas saat pengiriman.

Sejak awal diciptakan, alam beserta isinya sudah menerapkan sistem kemasan, yang kemudian diaplikasikan juga oleh nenek moyang dalam berbagai lini kehidupan kita. Secara hakiki kemasan merupakan upaya manusia untuk mengumpulkan sesuatu yang berantakan ke dalam satu wadah, serta melindunginya dari gangguan cuaca, jadi tak sebatas melindungi, tapi juga memberi aroma yang khas kepada isinya.

Banyak orang membeli penganan tradisional bukan hanya karena isinya, tapi juga karena daya tarik kemasannya yang unik. Contohnya kemasan makanan Jepang bisa jadi oleh-oleh, (omiyage), bungkusnya dapat menjadi koleksi asbab ke’luhuran tradisi’nya.

Kekhasan kemasan tradisional tak akan pernah tergantikan. Jika kita mau jujur, kemasan tradisional banyak kelebihannya dibanding kekurangannya. Dan harus diakui, makan daging dan beras berbungkus plastik dengan bacang berbalut daun bambu yang dimakan, sensasi dan kenikmatannya benar-benar jauh berbeda!  Kekhawatiran kehilangan pengalaman menyenangkan itu membuat  sudah sepatutnya membuat kita mengambil tanggung-jawab untuk memertahankan keberadaan kemasan tradisional, bahkan memperjuangkannya untuk lebih eksis dan makin dihargai.

Yuk,  kupas bungkus ‘bacang’nya, bentuk limasannya telah memudahkan  kita untuk memegang, balutan bungkusnya ramah lingkungan…am tuang…! (red.: hap…disantap)

Lantas bagaimana ketika ada yang menghubungkan limas segitiga bacang dengan ‘sihir illuminati’? Wah itu mah cocokologi yang kejauhan, sebagaimana ilustrasi obrolan ringan seorang pendatang di Bandung yang bertanya tentang rute jalan: 1. “…kalau ke Jalan R.E. Martadimana Dinata…?” 2. “…ooh…Jalan Riau…? Nanti akang jalan lurus terus dari Jalan insinyur haji Dago (Ir. Haji Juanda,  maksudnya)…mentok…belok kiri..Nah, itu jalan Riau… Kalau akang kebablasan beloknya nanti malah ketemu deretan angkot ngetem Jurusan Antapani - Merdeka yang kernetnya suka jojorowokan (berteriak): ‘Aceh Merdeka…Aceh Merdeka (maksudnya simpang jalan Aceh dan Jalan Merdeka…di Bandung)”. laugh


Yah, itu mah gurauan yang kejauhan konteksnya, kang. Yah namanya juga ‘cocokologi’. Maksa. laugh


Bandung, 3 Syawal 1440 H.


 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments