Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

ANCAMAN IDEOLOGI ITU NYATA ADANYA ... (bagian 2) Nasional



 

PESAN, TANDA dan MAKNA dalam perwujudan Arsitektur Ruang Publik

’Ancaman Ideologi itu Nyata Adanya'. 

 

diolah oleh :

Dr. Tendy Y. RAMADIN, S.Des., M.T. (Arch.)

Staf Pengajar Kelompok Keahlian Manusia dan Ruang Interior - ITB

Arsitek sejumlah Masjid, Sekolah/Sekolah Peradaban/Universitas Islam/Islamic Society

Anggota Tim Arsitek YPM Salman ITB,

Ketua III Bidang Pendidikan dan Latihan serta Riset dan Pengembangan ANNAS.

 

 

 

Bagian 4.

Profesor Marcel Danesi, Ph.D, pakar semiotika University of Toronto menuliskan tentang pesan, tanda dan makna dalam beberapa tulisan ilmiahnya berkenaan dengan semiotika ruang dan bangunan. Kendati sebagian orang menepis arsitektur dikaitkan dengan produk mistis, pak Danesi ini melihat bahwa di dalam perancangan arsitektur dan seni secara lebih luas, terdapat kesadaran pola ruang yang mendalam, yang dengan satu atau lain cara, diasumsikan terkait dengan takdir dan kondisi manusia. Gerakan melalui ruang-ruang dalam sebuah bangunan, lanjut pak Danesi, memiliki kekuatan naratif, karena bagian-bagian sebuah bangunan ditafsirkan sebagai sesuatu yang terstruktur, serupa dengan bagian-bagian sebuah kalimat atau cerita. Elemen yang berbeda-beda dalam teks bangunan merupakan penanda. Tingginya menara gereja abad pertengahan yang membumbung ke langit menjadi lambang kekuasaan dan kekayaan gereja. Bangunan-bangunan raksasa kiwari menunjukkan struktur hierarkis sosial di dalamnya, pekerjaan dan jabatan dengan nilai terendah ada di dasar bangunan dan pekerjaan yang lebih penting ada di bagian atas. Para eksekutif perusahaan seperti dewa-dewa di gunung Olympus, tinggal di lantai atas. Suasana di lantai tersebut dianggap ekslusif dan seakan dari dunia lain. Simbolisme arsitektural ini adalah alasan mengapa kita menggunakan ungkapan ‘bekerja sampai ke level atas’, ‘berhasil meraih puncak’, ‘menapaki tangga kesuksesan’, ‘memancang tujuan setinggi langit’, dan  lain sebagainya.

Tempat sakral adalah situs di mana manusia percaya mereka bisa memperoleh semacam kontak atau kedekatan illahiah. Kode ruang yang terkait dengan tempat semacam ini memiliki ‘kekuatan’ secara emosional. Arsitek memiliki peluang dan kemampuan mewujudkan simbol-simbol itu, secara sadar atau pun tidak disengaja.

Simpulan sederhananya adalah, bahwa menampilkan simbol Illuminati, langsung atau tidak langsung berpeluang memiliki kekuatan ‘sihir’ yang mampu menggerakkan ‘emosi’ seseorang yang terpancar pesan Dajjal tersebut. Setuju atau tidak setuju. Percaya atau tidak percaya.

Betapa hari ini kita mendapati dunia entertainment dikuasai para ‘ekonom liberal’ (bahkan oleh ras tertentu), dengan leluasa menjajah budaya tempatan dengan ideologi persaingan bebas, pergaulan bebas, bahkan ‘merebut kekuasaan’ dengan cara bebas, jauh dari keadilan dan kejujuran. Yang benar bisa tampak salah, yang salah tampak sebagai kebenaran. Bukankah ini ciri-ciri dari ‘sihir' Dajjal? Barangkali termasuk peristiwa sosial dan politik yang menerpa bangsa kita hari-hari ini. Ketika saudara terpisahkan dari saudaranya yang lain karena berbeda pandangan. (Tentang ini perlu penjelasan yang panjang lebar diikuti data empirik yang cukup banyak).

 

Bagian 5.

Profesor M. Abdul Jabbar Beg, Ph.D. alumnus Fakultas Pengkajian ke-Timur-an, Cambridge University, menyatakan bahwa seorang arsitek Islam akan membuat massa menjadi tidak nampak.   Tanpa peduli bagaimana masif, gelap, berat, dan padunya, ia berusaha tidak menampakkan massa dengan teknik struktural,, membungkus seluruh atau sebagian massa agar tidak lagi dikenali. Dalam arsitektur Islam menurut pak Beg, dekorasi akan berperan negatif apabila ia menyangkal laa ilaha illa Allah. Arsitek Islam akan ‘menghalang-halangi’ timbulnya pemberhalaan sekecil apa pun yang direpresentasikan oleh keindahan massa bangunan dan ruang.

 

Dalam arsitektur Islam - yang tanpa konflik, tanpa menantang, tanpa mengalahkan, dan tanpa  memenangkan ruang di luarnya, tak ada keinginan untuk membuat ruang dalam menjadi terkurung. Alih-alih demikian, justru ruang dalam pada bangunan Islam dibuat berhubungan dengan ruang di luarnya. Tidak ada misteri dan ‘kegelapan’ bahkan ‘vertikal yang ekstrim’ dalam arsitektur Islam, karena sejatinya memposisikan hablumminannaas dan hablumminal ‘alam adalah bagian sinergis dengan hablumminallaah.

Arsitektur Islam mencerminkan Islam. Tepat dan sudah seharusnya. Kini, arsitektur modern dalam dunia Islam menurut pak Beg, telah dirasuki oleh gagasan-gagasan asing. Secara jujur, musuh telah menduduki singgasana tahta setiap kota Muslim. Arsitek kita, arsitek Islam, telah menjadi arsitek ‘Asing’ yang kebetulan saja sosok yang mengaku seorang muslim.

 

Bagian 6. Sanwacana

Tiga orang dari sejumlah lulusan Ph.D dari UiTM Malaysia yang pernah meminta saya menjadi salah satu penguji penelitian disertasinya, berasal dari Saudi Arabia, Libya dan Iran. Seorang di antaranya adalah staf pengajar di Ummul Qura University, Saudi Arabia, seorang adalah staf pengajar di University of Tripoli, Libya, dan seorang lagi adalah staf peneliti alumnus Shahid Bahonar University of Keman. Pada riset ketiganya dituturkan tentang kuatnya pengaruh non-Islam dalam perwujudan karya arsitektur dan desain di negara nya masing-masing. Bahkan ditengarai pengaruh itu amatlah kuat secara ideologis akibat ‘kekuasaan’ dapat mewariskan pendiktean terhadap profesi perancang, atau dengan kata lain ‘The Death of the Author (matinya sang  pengarang)’ yang mashur dalam kajian semiotika berdasarkan ungkapan Roland Barthes. Apalah jadinya apabila arsitektur dan kekuasaan itu tersublimasi dalam perwujudan arsitektur dengan muatan non-Islam dalam bangunan untuk ummat Islam?

Dr. Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch., guru besar saya ketika kuliah di Departemen Arsitektur ITB seingat saya pernah memberikan kuliah tentang jaring laba-laba disandingkan dengan profesi seorang arsitek (tentang ini, salah seorang sahabat saya, dosen di AR ITB yang memberikan pencerahan kembali).

Laba-laba disebutkan dalam sebuah ayat Al-Quran. "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui," bunyi QS Al-Ankabut : 41.

Meskipun disebutkan dalam Alquran bahwa rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, namun dalam buku Al-Quran vs Sains Modern disebutkan bahwa laba-laba membuat jaring jebakan yang amat kuat untuk mencari mangsa yang terperangkap. Jaring laba-laba dan rumahnya yang rapuh juga penggambaran kehidupan. Pertahanan rumah laba-laba bisa rusak bila terkena tiupan angin kencang, atau ada tangan-tangan manusia yang merusak serta mengusiknya.

Allah memberikan perumpamaan, di mana kehidupan seseorang bisa rapuh apabila dibangun tanpa dasar iman dan Islam. Cepat atau lambat pertahanan itu akan rusak, seiring besarnya angin fitnah yang bertiup dan semakin jauh dari Allah.

Memahami arsitektur dalam benak saya, bukanlah sekadar berputar-putar pada tataran teknis praxis, namun ada aspek ilmu psikologi, sosiologi, ilmu komunikasi bahkan linguistik dapat berperan dalam  memahami konteks paradigmanya. Maknanya adalah, arsitek Islam perlu paham konteks dan sensitif memahaminya.

Arsitek Islam seyogianya mendasarkan karyanya atas basis aqidah yang kokoh, jujur dan adil bahkan ketika menerima saran dan  kritik dari ulama dan ummat penikmat karyanya. Sehingga saran praktis untuk menggantikan simbol-simbol non Islam yang cenderung ‘mengusik’ adalah keniscayaan.

 

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq, billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Bandung, senja menjelang buka shaum 30 Ramadhan 1440 H. (edited.)

 

-HABIS-

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : Dr. Tendy Yulisca Ramadin S.Sn.,MT
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments