Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

PBB dan HAK PILIH Nasional


 

Semula saya agak kurang tertarik untuk menanggapi berbagai pertanyaan baik yang langsung maupun yang lewat sms dan atau WA, perihal keputusan pribadi Pak Yusril Ihza Mahendra,  yang kemudian di "amini" sebagian para elit Partai PBB dalam kongres partai yang baru-baru ini memutuskan mendukung dan akan memilih capres- cawapres no. 1. 

Namun karena pernyataan dan pertanyaan semakin deras mengalir, maka saya mencoba memberikan tanggapan singkat di bawah ini. 

Adalah hak pribadi Pak Yusril  dan juga hak sebagian dari elite PBB untuk memilih apapun yang menjadi sikap politiknya. Begitu juga menjadi hak bagi sebagian elit politik dan para caleg PBB  lainnya untuk tidak setuju, mengecam bahkan menyatakan diri keluar dari Partai dan dari pencalonannya  sebagai anggota legislatif dari PBB.

Pak Yusril sendiri sudah mempersilakan dan telah pula  menginstruksikan pengurus partai, untuk membantu menangani semua yang terkait dengan urusan administrasi bagi yang ingin keluar dari Partai.

Jangankan hanya menentukan pilihan dalam berpolitik,  bahkan memilih "kafir" setelah beriman adalah kebebasan mutlak yang  sepenuhnya diberikan  Alloh  SWT kepada setiap manusia,  yang sudah seharusnya dihormati oleh semua pihak.

Ummat boleh saja kecewa, bingung dan bertanya :  "bagaimana mungkin Partai yang kelahirannya dibidani tokoh tokoh Masyumi bisa menetapkan pilihan yang kontradiksi seperti itu ?" 

Kecewa sih wajar-wajar saja, tapi mengapa juga harus bingung ? Bukankan Said Agil Siroj juga acapkali membuat pernyataan dan kebijakan yang berbeda dengan prinsip dan kebijakan serta pandangan pendiri NU, KH Hasjim Asj'ari dan juga keputusan politik untuk kembali ke  khiththah 26. 
Bahkan beberapa dari pernyataan ybs tidak hanya membingungkan ummat Islam di luar NU, tapi juga  tidak sedikit dari tokoh NU sendiri yang  mengecam dan menetapkan sikap "Tafarruk" (memisahkan diri) dari kepengurusan PBNU yang ada sekarang.  
Bahkan, KH.Salahudin Wahid dalam dua artikelnya di Harian Umum REPUBLIKA dan juga di dalam berbagai kesempatan, dengan tegas sekali menyatakan tidak mengakui kepemimpinan PBNU yang ada sekarang, sekaligus mengingatkan warga nahdiyyin dan ummat Islam  umumnya, untuk tidak terjebak menyamakan "Jam'iyyah" (Kepengurusan  PBNU) yang ada sekarang, dengan prinsip dan pandangan "Jamaah" Nahdiyyin pada umumnya.

Seharusnya ummat sudah tidak harus kaget dan bingung lagi dengan fenomena seperti ini, karena bukankan ummat sudah terbiasa menyaksikan adegan yang serupa ditampilkan juga oleh beberapa partai berartribut dan berbasis Islam ?  
Bukankah Partai yang dulu didirikan sebagai wadah perjuangan ummat Islam sudah jauh lebih dulu mati-matian mendukung capres-cawapres no 1, bahkan berada di garis depan mendukung penuh penista Agama ? 

Jadi apa yang harus dibingungkan ?  Tidak ada bukan ?  

Mereka punya hak menentukan pilihan,  ummat juga memiliki hak mutlak  yang sama dalam menentukan pilihan ! 
Ummat punya hak untuk tidak  memilih capres-cawapres yang tidak layak dipilih menurut ummat, begitu pula caleg- caleg dari partai-partai yang diyakini ummat sudah tidak lagi mewakili aspirasi, visi-misi dan perjuangan ummat Islam. 

Sederhana sekali bukan ?


 

#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : K.H. Athian Ali M Dai, Lc,.MA


Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...



Comments