Quotes

  • IKHLAS adalah Kepasrahan, bukan mengalah apalagi menyerah kalah

  • Solusi untuk setiap masalah adalah dengan Sabar dan Istighfar

  • Kesalahan terburuk kita adalah tertarik pd kesalahan orang lain

  • “Hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Q,S Yusuf: 86)

  • Kegelisahan akan hilang saat shalat dimulai

POLITIK HANTU Nasional



 

by M Rizal Fadillah

Ceritra hantu sering diangkat untuk menakut-nakuti, biasanya anak-anak. Orang tua juga kadang suka dengan tayangan hantu, menaku-nakuti dirinya sendiri. 
Dalam politik untuk mempertahankan atau merebut atau pun untuk memperluas kekuasaan, sering membuat hantu hantu pula. Tujuannya untuk menaku-nakuti publik agar ia akhirnya berlindung atau bergantung pada penguasa pembuat 'horor' tersebut.

Dalam skala global, munculnya 'teroris' Al Qaida pimpinan Osama bin Laden yang tak lain adalah hantu buatan Amerika untuk menakuti dunia.  Demikian juga dengan 'ISIS'. Lalu dunia ikut koor bersama dalam nyanyian keseraman dan ketakutan itu. Dirigen nya Amerika. Semua berkoalisi. 

Di negeri kita juga politik hantu ikut menghantui. Dulu waktu PKI mencoba  coup dibuat hantu 'dewan jenderal' di masa orba ada 'komando jihad' dan 'kelompok ekstrim' lalu rezim kemudian memunculkan hantu  'intoleransi' dan 'radikal'. Soal hantu 'teroris' lebih universal, walau itu efektif juga untuk isu nasional . Proyeknya menarik dan bisa berkelanjutan.

Undang undang dibuat untuk kebaikan dan ketertiban, kita semua setuju. Tapi Jika undang undang seperti itu dijadikan hantu kita tak setuju. Undang undang yang esensinya anti terorisme, anti radikalisme, anti diskriminasi, atau anti ujaran kebencian itu baik, tapi jika tak jelas batasan, multi tafsir, atau digunakan untuk membungkam sikap kritis masyarakat maka undang undang itu telah berubah menjadi hantu. 

Peristiwa pembakaran bendera tauhid menyadarkan kita, politik hantu sedang dimainkan rezim. Ketika yang disalahkan adalah pembawa bendera, lalu berdalih bahwa di beberapa tempat juga ada 'penyusupan' pengibaran, timbul pertanyaan siapa, apa maksud, serta efek apa yang ingin dikehendaki. Dan ketika ada bendera (dan atribut lain) yang dibakar, maka hantu itu telah dimunculkan yaitu HTI. 

Umat Islam terluka bendera tauhid dibakar, bendera Rosulullah Al Liwa dan Ar Rayah dinistakan. Berbagai penjuru negeri umat bereaksi. Sementara penanganan disederhanakan. Ancaman perbuatan hanya tiga minggu penjara. Mestinya pasal penodaan agama yang dikenakan. Cuma ya itu alasannya bendera yang dibakar adalah bendera HTI. Organisasi terlarang. Ini disosialisasikan dan didoktrinkan. HTI bahkan disuarakan sebagai 'berbahaya' sehingga setiap gerak pengkritisan umat terhadap rezim sangat mungkin di HTI kan. 

Tak peduli bahwa tak ada vonis HTI  sebagai organisasi terlarang, bendera semestinya bertuliskan 'Hizbut Tahrir Indonesia', tidak ada bendera HTI yang terdaftar, banyak pihak tegaskan bendera yang dibakar adalah bendera  kalimat tauhid. Namun tetap saja hantu harus dibuat. HTI yang katanya anti ideologi bisa di jadikan alat politik hantu baru.

Hanya sayang umat Islam yang berakidah kuat tak takut hantu. Jika itu adalah Jin, maka sama saja dengan manusia makhluk Allah yang diperintahkan beribadah.  Apalagi jika hantu itu dedemit sejenis pocong, kuntilanak, suster ngesot, buto ijo, atau lainnya yang harus disesajeni, maka musyrik hukum meyakininya. 

Karenanya jika HTI dijadikan bagian politik hantu untuk menakut nakuti umat Islam, maka itu salah besar. Umat faham secara obyektif siapa HTI. Berbeda pandangan bisa saja. Tak setuju dengan cara perjuangannya boleh boleh, tapi menjadikan HTI seperti PKI yang mesti ditakuti adalah berlebihan. 
Janganlah umat Islam Indonesia dianggap seperti anak kecil yang menjadi gemetar karena tayangan film hantu. Malah sebaliknya bisa saja akhirnya sutradara dianggap sedang membuat film lucu lucuan yang tidak membuat tertawa, hanya nyengir saja 'mengasihani' sambil berujar....dasar sontoloyo...!

Bandung, 31 Oktober 2019

 

*********************************************************************

Salurkan donasi antum untuk menjaga Aqidah Umat dalam berbagai Program ANNAS FOUNDATION

Ke No. Rek. an. ANNAS FOUNDATION
Bank Muamalat :
129 000 3048 (Wakaf)
129 000 3049 (Shodaqoh)
129 000 3050 (Zakat)

Bank Mandiri :
13000 41 3000 40 (Wakaf)
13000 51 3000 54 (Shodaqoh)
13000 41 3000 57 (Zakat)

Hubungi Hot Line Kami 
Di 081 12345 741

Atau Bisa Langsung Ke Kantor Kas ANNAS Foundation 
Di Jl. CIJAGRA RAYA NO 39 
BANDUNG
Senin sd Sabtu 09.00 sd 15.30


#ANNAS
#SyiahbukanIslam
#JundullahANNAS
#GEMAANNAS
#GARDAANNAS
#ANNASFoundation

#ANNASINDONESIA
 

Dikutip dari             : -

Penulis                   : M Rizal Fadillah
 

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

 


Comments